Brandal Loka Jaya, Jaranan Asli Jawi GP Ansor Ponorogo Jadi Simbol Dakwah Budaya di Satu Abad NU
Ponorogo – Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (1926–2026) di Ponorogo tidak hanya dirayakan melalui kegiatan keagamaan dan sosial, tetapi juga melalui jalur kebudayaan. Salah satu ikon yang mencuri perhatian dalam rangkaian 1 Abad NU Fest MWC NU Ponorogo adalah penampilan Jaranan “Brandal Loka Jaya”, kesenian tradisi asli Jawa milik GP Ansor Ponorogo.
Pertunjukan Brandal Loka Jaya digelar sebagai bagian dari NU Fest 2026, menegaskan komitmen GP Ansor dalam merawat budaya lokal sebagai medium dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Kesenian jaranan yang sarat nilai historis, filosofis, dan spiritual ini disuguhkan dengan narasi yang beradab, tertib, dan bernafaskan nilai keislaman.
Ketua GP Ansor Ponorogo, Muhibbudin, menyampaikan bahwa Brandal Loka Jaya bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan instrumen dakwah kultural yang strategis, khususnya dalam menjangkau generasi muda dan masyarakat akar rumput.
“NU sejak awal berdiri tidak pernah memusuhi budaya. Justru budaya dirawat, diarahkan, dan diisi nilai. Brandal Loka Jaya adalah wajah dakwah Ansor yang ramah, membumi, dan tetap berakidah Aswaja,” tegasnya.
Pertunjukan ini mendapat apresiasi luas dari warga NU Ponorogo karena mampu menghadirkan seni tradisi jaranan dalam bingkai yang tertib, edukatif, dan jauh dari unsur negatif.
Penampilan Brandal Loka Jaya juga menjadi bukti bahwa GP Ansor tidak hanya bergerak di bidang sosial dan kebangsaan, tetapi juga serius dalam menjaga marwah budaya lokal.
Pesan ini bagian dari Dakwah Budaya yang diejawantahkan dalam penampilan Brandal Loka Jaya sebagai Misionaris Dakwah Budaya NU, sekilas Budaya Brandal LOKAJAYA :
1. Dakwah Kultural ala NU
Sejak masa Walisongo hingga berdirinya NU, dakwah Islam di Nusantara selalu menggunakan pendekatan budaya. Brandal Loka Jaya berdiri dalam garis sejarah tersebut—menjadikan kesenian jaranan sebagai media internalisasi nilai Islam, bukan sebagai budaya yang ditinggalkan atau dimusuhi.
Dalam konteks satu abad NU, kehadiran jaranan ini menegaskan bahwa NU konsisten pada prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah—merawat tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat.
2. Simbol Misionaris Budaya GP Ansor
Brandal Loka Jaya dapat dipahami sebagai “misionaris budaya” GP Ansor Ponorogo. Ia bergerak di ruang yang tidak selalu bisa dijangkau mimbar formal: lapangan rakyat, ruang hiburan, dan komunitas akar rumput.
Melalui seni, Ansor:
Menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, dan adab
Menggeser stigma negatif jaranan menuju seni yang beretika
Menarik simpati generasi muda NU agar bangga terhadap identitas budaya dan jam’iyah
3. Menjaga Identitas Kejawaan dan Keislaman
Sebagai daerah yang dikenal sebagai kota budaya, Ponorogo memiliki akar tradisi yang kuat. Brandal Loka Jaya hadir sebagai penegasan bahwa menjadi santri NU tidak berarti tercerabut dari kejawaan, dan menjadi orang Jawa tidak berarti jauh dari Islam.
Inilah wajah Islam Nusantara yang dipraktikkan, bukan sekadar diwacanakan.
4. Relevansi di Momentum Satu Abad NU
Di tengah tantangan globalisasi, komersialisasi budaya, dan penetrasi budaya instan, Brandal Loka Jaya menjadi contoh konkret bagaimana NU dan GP Ansor merespons zaman: bukan dengan penolakan, tetapi dengan penguatan jati diri.
Pada satu abad NU, jaranan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan pesan:
NU akan terus hidup bersama budaya rakyat, mengarahkan, membimbing, dan memuliakannya.
Komentar
Posting Komentar