Opini


Punden : Penjaga Alam dan Titik Temu Manusia dengan Tuhan


Gambar pohon-pohon tua yang diselimuti kain bukan sekadar estetika atau tradisi tanpa makna. Ia adalah simbol kesadaran spiritual masyarakat Nusantara tentang hubungan sakral antara manusia, alam, dan Tuhan. Di situlah punden menemukan relevansinya: bukan sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai penanda kesucian ruang kehidupan.


Dalam tradisi lokal, punden sering dipahami sebagai tempat yang “dijaga”. Dijaga bukan oleh kekuatan mistis semata, tetapi oleh kesepakatan moral kolektif bahwa alam tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang. Pohon besar, mata air, bukit, atau hutan kecil yang dipundenkan menjadi wilayah yang dihormati. Tak ditebang sembarangan, tak dirusak, tak dieksploitasi berlebihan. Dengan cara inilah punden bekerja sebagai mekanisme ekologis berbasis kearifan lokal.



Kain yang melingkari pohon adalah bahasa simbol. Ia berkata: “Berhenti. Hormati. Jangan melampaui batas.” Dalam dunia modern, batas-batas ini sering hilang. Alam direduksi menjadi komoditas, dihitung dengan angka, bukan dengan nilai. Punden hadir sebagai pengingat bahwa alam memiliki martabat—bukan karena ia “keramat”, tetapi karena ia adalah ciptaan Tuhan.


Di sinilah relasi manusia dengan Tuhan menemukan bentuk yang membumi. Iman tidak hanya diwujudkan dalam ritual verbal, tetapi dalam etika ekologis. Merusak alam berarti mengkhianati amanah. Menjaga alam adalah bentuk ibadah yang sunyi namun nyata. Punden mengajarkan bahwa mendekat kepada Tuhan tidak selalu dengan meninggalkan bumi, tetapi justru dengan merawatnya.


Dalam perspektif ekoteologi, punden adalah jembatan:

antara iman dan tindakan, antara doa dan kerja, antara langit dan tanah.



Ketika masyarakat menjaga punden, sesungguhnya mereka sedang menjaga keberlanjutan hidup. Mereka sedang menanamkan kesadaran lintas generasi bahwa alam bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan untuk anak cucu.


Maka, alih-alih menertawakan atau menyingkirkan tradisi punden sebagai “kuno”, sudah saatnya kita membacanya ulang sebagai pengetahuan ekologis yang berakar pada spiritualitas. Di tengah krisis iklim dan bencana ekologi, barangkali justru dari punden-punden itulah kita belajar kembali tentang batas, hormat, dan tanggung jawab.


Karena pada akhirnya, manusia yang lupa menjaga alam, sedang menjauh dari Tuhannya.



relawan NU tangguh



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tim Rescue LPBI PCNU Ponorogo Evakuasi Ular Taring Kucing di Pulung