Kader IPPNU : Penjaga Gawang Martabat Perempuan di Era TikTok

*binti musyarofah




Era Tiktok menghadirkan paradoks bagi perempuan muda. Di satu sisi, ia membuka ruang kreativitas dan aktualisasi diri. Namun di sisi lain, algoritma media sosial kerap mendorong praktik yang mereduksi perempuan menjadi komoditas visual. Area sensitif tubuh perempuan dieksploitasi demi engagement, seolah harga diri dapat ditukar dengan popularitas. 


Dalam situasi inilah kader IPPNU hadir sebagai penjaga gawang—benteng terakhir yang menjaga marwah perempuan dan nilai perjuangan NU di ruang digital. Pertahanan kader IPPNU dibangun di atas tiga pilar utama: Knowledge, Science, dan Attitude.


Pertama, Knowledge (Pengetahuan). 


Kader IPPNU dibekali kesadaran ideologis dan nilai keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Pengetahuan ini menjadi kompas moral dalam menghadapi budaya digital yang serba bebas. Dengan knowledge, kader IPPNU mampu membedakan antara ekspresi diri dan eksploitasi tubuh, antara kebebasan dan pelecehan yang dibungkus algoritma. Pengetahuan membentuk kesadaran bahwa tubuh perempuan adalah amanah, bukan komoditas.


Kedua, Science (Ilmu dan Nalar Kritis).


Di era digital, kader IPPNU tidak boleh gagap teknologi. Literasi digital, pemahaman algoritma media sosial, serta dampak psikologis dan sosial dari konten seksual menjadi bekal penting. Dengan science, kader IPPNU mampu membaca bahwa viralitas instan sering berujung pada kerentanan jangka panjang : objektifikasi, kekerasan digital, hingga krisis identitas. Ilmu menjadikan kader IPPNU tidak sekadar reaktif, tetapi solutif dan edukatif.


Ketiga, Attitude (Sikap dan Akhlak). 


Inilah pembeda utama kader IPPNU. Sikap menjaga diri, etika bermedia, dan keberanian menolak arus menjadi wujud nyata pertahanan. Attitude kader IPPNU tercermin dalam cara berpakaian, berbicara, dan berkonten—menampilkan kecerdasan dan nilai, bukan sensualitas. Sikap ini bukan bentuk pengekangan, melainkan ekspresi kemerdekaan perempuan yang bermartabat.

Lebih dari itu, kader IPPNU bukan hanya pelajar hari ini, tetapi calon ibu dan pemimpin masa depan. 


Dari rahim perempuan beradab lahir generasi yang kuat secara moral dan intelektual. 


Apa yang dikonsumsi dan diproduksi kader IPPNU di ruang digital hari ini akan membentuk karakter keluarga dan bangsa di masa depan.

Kader IPPNU juga adalah penjaga marwah pejuang NU. Di tengah gempuran budaya global yang sering bertentangan dengan nilai lokal dan keislaman, IPPNU menjadi barisan perempuan yang menjaga kehormatan jam’iyyah. 


Menjaga diri berarti menjaga nama baik NU; menjaga etika berarti meneruskan perjuangan para mujahidah NU dengan konteks zaman yang berbeda. Penjaga gawang tidak mencari sorotan, tetapi memastikan gawang tidak kebobolan.


Begitulah kader IPPNU di era TikTok : berdiri tegak menjaga martabat perempuan, melawan normalisasi eksploitasi tubuh, dan menegaskan bahwa perempuan NU hadir sebagai subjek peradaban—berilmu, berakhlak, dan berdaya.


*Ketua MA IPNU dan Ketua PC  IPPNU Ponorogo XXV

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tim Rescue LPBI PCNU Ponorogo Evakuasi Ular Taring Kucing di Pulung