25 Desember : Simbul Kepahlawanan Banser Riyanto
*Muhibbudin_Barkot
Riyanto (19 Oktober 1975 – 24
Desember 2000 ) merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama
yang gugur karena terkena ledakan bom saat mencoba menyelamatkan Gereja
Eben Haezer di Mojokerto dari percobaan peledakan pada malam 24 Desember 2000.
Riyanto menjadi simbul pengabdian
di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik identitas, kekerasan atas nama
keyakinan, dan polarisasi sosial, sosok Riyanto, anggota Banser NU, hadir
sebagai penanda bahwa kemanusiaan masih memiliki wajah yang teduh. Riyanto
bukan tokoh besar dengan jabatan strategis, namun tindakannya telah
menjadikannya pahlawan kemanusiaan.
Peristiwa ketika Riyanto dengan penuh kesadaran menjaga rumah ibadah
agama lain di malam Natal adalah simbol keberanian moral yang langka. Ia
berdiri bukan untuk membela simbol agama tertentu, melainkan untuk menjaga hak
hidup aman dan damai sesama warga bangsa.
Di saat sebagian orang sibuk
menegaskan perbedaan, Riyanto justru
melampauinya. Banser, sebagai bagian dari NU, sejak awal berdiri memang tidak
hanya mengusung narasi keagamaan, tetapi juga tugas kebangsaan dan kemanusiaan.
Riyanto adalah cerminan nyata dari nilai
hubbul wathan minal iman—cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Menjaga
rumah ibadah, apapun agamanya, adalah bentuk menjaga Indonesia itu sendiri.
Pengorbanan Riyanto mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak selalu
lahir dari medan perang atau panggung politik. Kepahlawanan justru sering
muncul dari keikhlasan melindungi yang rentan, dari kesediaan mengambil risiko
demi keselamatan orang lain. Dalam konteks inilah, Riyanto layak disebut pahlawan kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya
intoleransi dan ujaran kebencian, kisah Riyanto menjadi oase. Ia mengingatkan bahwa agama
sejatinya hadir untuk memuliakan manusia, bukan meniadakannya. Banser melalui Riyanto
menunjukkan bahwa iman yang dewasa
selalu berpihak pada perdamaian.
Riyanto mungkin telah gugur, tetapi nilai yang ia
wariskan akan terus hidup: bahwa kemanusiaan adalah fondasi utama keberagamaan
dan kebangsaan. Indonesia membutuhkan lebih banyak “Riyanto ”—bukan untuk mati,
tetapi untuk hidup menjaga sesama.
Muhibbudin – Ketua GP Anshor Kota
Ponorogo
Barkot
Komentar
Posting Komentar